Sejak peluncuran Nokia 8110 versi baru kemarin (26/2), banyak orang yang bertanya-tanya tentang KaiOS, sistem operasi yang digunakan oleh ponsel yang dulu terkenal dengan sebutan Nokia pisang tersebut. Namanya memang kalah populer dibanding Android dan iOS, namun kehadirannya membuka peluang pasar bagi ponsel-ponsel fitur

Awal mula

Di tahun 2015, Mozilla memperkenalkan sistem operasi Firefox yang rencananya akan dibenamkan pada ponsel. Mereka mengatakan akan ‘menguji ombak’ terlebih dahulu dan fokus pada kebutuhan-kebutuhan IoT (Internet of Things). Namun di tengah jalan Moilla mengubah rencana. Mereka meghentikan dukungan untuk Firefox OS di perangkat mobile dengan alasan agar lebih fokus pada perangkat terhubung lainnya seperti smart TV.

Meski demikian, secara diam-diam, sebuah perusahaan bernama KaiOS mulai membangun kembali reruntuhan Firefox OS dan meluncurkan versi baru yang secara khusus ditujukan untuk ponsel-ponsel fitur.

Dan hari ini, kita melihat di ajang Mobile World Congress Barcelona 2018, mereka menciptakan milestone dengan membenamkan sistem operasi yang kini bernama KaiOS tersebut pada versi remake smartphone legendaris Nokia 8110.

Fitur dan fakta KaiOS

KaiOS bukanlah sebuah sistem operasi sederhana dan biasa. Di dalamya terdapat aplikasi seperti Facebook, Twitter, Google (dalam bentuk voice assistant), Google Maps, dan Google Search. Pengguna KaiOS tak hanya Nokia. Tercatat nama-nama seperti Bullitt, Doro, dan Micromax juga menggunakan sistem operasi hasil reinkarnasi Firefox OS tersebut.

Di sisi lain, Qualcomm dan Speadtrum sebagai produsen chipset global juga ikut terlibat dalam komputasi internalnya. Pihak perusahaan mengklaim bahwa sistem operasinya kini dipakai di lebih dari 30 juta perangkat di dunia.

Sebenarnya, ide untuk membangun ponsel sederhana yang bukan smartphone namun kaya fitur bukanlah hal yang baru. Mozilla sebelumnya pernah mengemukakan ide untuk menciptakan sebuah perangkat dengan ekosistem dengan aplikasi-aplikasi berbasis HTML 5. Perangkat ini akan berbentuk ponsel murah yang ditujukan pada pasar negara berkembang, dimana sistem operasi Android dan iOS menjadi penguasa pasar untuk perangkat yang lebih mahal.

Ide ini ternyata menemui kendala. Handset mereka tidak pernah menemukan pembeli yang tepat. Sementara, smartphone Android semakin murah dan menekan mereka.

Padahal, meski pembicaraan tentang perangkat seluler saat ini selalu berkaitan dengan smartphone, pasar ponsel fitur masih ada dan memiliki banyak peminat. Situasi ini tak hanya terjadi di negara dunia ketiga, namun juga di negara-negara berkembang. Ponsel fitur dipakai sebagai ‘cadangan’ bagi pemilik smartphone karena desainnya lebih kecil, mudah dibawa dan digunakan.

Namun kini, tuntutan terhadap fitur ponsel cadangan juga kian meningkat. Ponsel cadangan harus memiliki koneksi internet yang cepat, punya aplikasi media sosial, dan mampu melakukan hal-hal seperti mengirim email dan berkirim pesan. Di sisi lain, faktor baterai yang awet juga dibutuhkan. Sebagai contoh Nokia 8110 yang baru saja diluncurkan, memiliki baterai yang mampu bertahan hingga 17 hari.

Di sisi lain, Facebook dan Twitter berusaha untuk terus meluaskan bisnisnya dengan berbagai cara dan ke berbagai jenis pasar termasuk pasar dunia ketiga dan negara berkembang dimana masyarakatnya kini menggunakan ponsel sebagai ‘komputer utama’ mereka. Jadi, masuknya mereka ke ponsel fitur bukanlah hal yang mengagetkan.

Setali tiga uang,  Google juga memiliki tujuan yang sama untuk mencari berbagai rute pengembangan baru. Namun mereka lebih selektif. Sebagai bukti, aplikasi-aplikasi Google di KaiOS saat ini hanya bisa ditemui di Nokia 8110 saja.

AB

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *